Berprestasi dan pernah mewakili sekolah dalam ajang
bergengsi seperti olimpiade, seharusnya membuat seorang siswa tidak kesulitan
untuk naik kelas. Namun hal tersebut justru berbanding terbalik dengan Dvijatma
Puspita Rahmani yang harus tinggal kelas.
Siswi SMAN 4 Bandung tersebut dikenal sebagai siswi
yang berprestasi. Pasalnya dia pernah mewakili sekolah dalam ajang olimpiade
biologi. Namun sayang, keputusan dari rapat dewan guru ternyata membuatnya
tidak bisa naik ke kelas XI.
Atas peristiwa tersebut, orangtua murid yakni Danny
Daud Setiana, melaporkan kasus ini ke Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).
Kasus ini pun mendapat perhatian khusus dari FSGRI. Menurut Sekretaris Jenderal
FSGI, Retno Listyarti seorang siswa tidak mungkin mendapatkan nilai nol.
"Pada rapor semester II tahun pelajaran
2015-2016 tidaklah mungkin siswa memperoleh nilai nol di rapor karena nilai
semester ganjil dan genap diakumulasi," ungkapnya saat dihubungi Okezone,
belum lama ini.
Retno menilai bahwa dalam kasus ini, sekolah
melakukan kelalaian, pelanggaran terhadap peraturan perundang-udangan serta
pelanggaran etika guru. Sehingga hal ini bisa berdampak pada psikis siswa
tersebut.
"Jelas kasus ini masuk dalam pelanggaran hak
siswa," ujarnya.
Tidak berhenti sampai disitu, Daud pun melanjutkan
laporannya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pihak KPAI sendiri
akan melakukan langkah klarifikasi. "Penanganannya standar dari KPAI.
Setelah klarifikasi dilanjut dengan mediasi," ucap Ketua Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni'am Sholeh.
Kasus ini bermula saat Puspita tidak bisa mengikuti
pembelajaran di sekolah lantaran sakit. Siswi tersebut sudah berusaha untuk
meminta kesempatan untuk bisa mengumpulkan tugas, namun sayangnya guru di mata
pelajaran yang bersangkutan tidak memberikan kesempatan.
Tidak naik kelasnya Puspita ke kelas XI merupakan
kesepatan dewan guru yang tidak bisa diganggu gugat karena telah diputuskan
dalam rapat. Daud sendiri mengaku tidak pernah dipanggil oleh pihak sekolah.
"Tidak pernah dipanggil ke sekolah sama sekali,
makanya saya merasa tidak ada apa-apa," imbuhnya.
Kini, Puspita telah dipindahkan ke sekolah SMA Mifthaul
Khair Bandung dan duduk di bangku kelas X. Meskipun dirinya sudah menjalani
kegiatan sekolah seperti biasanya, dirinya tetap butuh pendampingan dari
orangtua.
"Iya sudah sekolah seperti biasa tapi masih
butuh pendampingan dari orangtua karena kondisi psikologisnya yang belum
stabil," tambahnya.



0 komentar:
Posting Komentar