Sabtu, 03 September 2016


Berprestasi dan pernah mewakili sekolah dalam ajang bergengsi seperti olimpiade, seharusnya membuat seorang siswa tidak kesulitan untuk naik kelas. Namun hal tersebut justru berbanding terbalik dengan Dvijatma Puspita Rahmani yang harus tinggal kelas.

Siswi SMAN 4 Bandung tersebut dikenal sebagai siswi yang berprestasi. Pasalnya dia pernah mewakili sekolah dalam ajang olimpiade biologi. Namun sayang, keputusan dari rapat dewan guru ternyata membuatnya tidak bisa naik ke kelas XI.
Atas peristiwa tersebut, orangtua murid yakni Danny Daud Setiana, melaporkan kasus ini ke Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Kasus ini pun mendapat perhatian khusus dari FSGRI. Menurut Sekretaris Jenderal FSGI, Retno Listyarti seorang siswa tidak mungkin mendapatkan nilai nol.

"Pada rapor semester II tahun pelajaran 2015-2016 tidaklah mungkin siswa memperoleh nilai nol di rapor karena nilai semester ganjil dan genap diakumulasi," ungkapnya saat dihubungi Okezone, belum lama ini.
Retno menilai bahwa dalam kasus ini, sekolah melakukan kelalaian, pelanggaran terhadap peraturan perundang-udangan serta pelanggaran etika guru. Sehingga hal ini bisa berdampak pada psikis siswa tersebut.

"Jelas kasus ini masuk dalam pelanggaran hak siswa," ujarnya.
Tidak berhenti sampai disitu, Daud pun melanjutkan laporannya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pihak KPAI sendiri akan melakukan langkah klarifikasi. "Penanganannya standar dari KPAI. Setelah klarifikasi dilanjut dengan mediasi," ucap Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni'am Sholeh.

Kasus ini bermula saat Puspita tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah lantaran sakit. Siswi tersebut sudah berusaha untuk meminta kesempatan untuk bisa mengumpulkan tugas, namun sayangnya guru di mata pelajaran yang bersangkutan tidak memberikan kesempatan.
Tidak naik kelasnya Puspita ke kelas XI merupakan kesepatan dewan guru yang tidak bisa diganggu gugat karena telah diputuskan dalam rapat. Daud sendiri mengaku tidak pernah dipanggil oleh pihak sekolah.
"Tidak pernah dipanggil ke sekolah sama sekali, makanya saya merasa tidak ada apa-apa," imbuhnya.

Kini, Puspita telah dipindahkan ke sekolah SMA Mifthaul Khair Bandung dan duduk di bangku kelas X. Meskipun dirinya sudah menjalani kegiatan sekolah seperti biasanya, dirinya tetap butuh pendampingan dari orangtua.
"Iya sudah sekolah seperti biasa tapi masih butuh pendampingan dari orangtua karena kondisi psikologisnya yang belum stabil," tambahnya.


0 komentar:

Posting Komentar

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Youtobe

SMS Gratis

Popular Posts