Jakarta -
Sejarah haji di Nusantara dimulai pada abad ke-18. Saat itu tujuan utama
masyarakat Nusantara datang ke Makkah bukanlah untuk beribadah haji, tetapi
untuk berdagang dan belajar ilmu agama.
Sebagian besar jemaah haji Indonesia setiap tahunnya adalah para petani, termasuk di dalamnya nelayan dan peternak. Mereka mendapatkan biaya perjalanan haji dari menjual hasil perkebunan dan pertanian.
Jemaah haji asal Jawa, Sumatera dan Kalimantan pada umumnya memperoleh biaya perjalanan haji dari penjualan hasil pertanian dan perkebunan. Di Jawa, hasil pertanian andalannya adalah padi, lada dan kopi. Di Sumatera, selain padi, ada juga tembakau dan karet. Sedangkan di Kalimantan, banyak perkebunan karet.
Hasil bumi yang dijual dari daerah-daerah pertanian dan perkebunan memiliki harga cukup tinggi. Sehingga para petani mampu berhaji pada saat itu. Begitu juga para nelayan yang hasil lautnya melimpah.
Sebagian besar jemaah haji Indonesia setiap tahunnya adalah para petani, termasuk di dalamnya nelayan dan peternak. Mereka mendapatkan biaya perjalanan haji dari menjual hasil perkebunan dan pertanian.
Jemaah haji asal Jawa, Sumatera dan Kalimantan pada umumnya memperoleh biaya perjalanan haji dari penjualan hasil pertanian dan perkebunan. Di Jawa, hasil pertanian andalannya adalah padi, lada dan kopi. Di Sumatera, selain padi, ada juga tembakau dan karet. Sedangkan di Kalimantan, banyak perkebunan karet.
Hasil bumi yang dijual dari daerah-daerah pertanian dan perkebunan memiliki harga cukup tinggi. Sehingga para petani mampu berhaji pada saat itu. Begitu juga para nelayan yang hasil lautnya melimpah.


0 komentar:
Posting Komentar